Sunday, October 30, 2016
Sebatang Pohon dan Seorang Anak
Belajar Ikhlas Dari Seorang Anak
Sore itu, antrian di supermarket terbilang cukup panjang, tiga kasir berjejeran pada mejanya masing-masing dan tampak sibuk menghadapi barisan pembeli yang menenteng belanjaan.
Seorang anak perempuan berpita merah berusia sekitar sepuluh tahunan berdiri pada barisan paling pinggir, dekat dengan pintu keluar, sebatang pensil dan penggaris merah muda terlihat di genggaman tangan kanannya.
Dia terlihat sabar, menanti antriannya yang akan segera tiba, satu orang lagi di depannya sedang menghitung uang kembalian, dan mencoba untuk memeriksa struk belanjaannya sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Kasir terlihat menghela napas panjang, menatap antrian yang semakin panjang ke belakang.
Kasir ini memang dikhususkan bagi pembeli yang hanya berbelanja sedikit atau beberapa barang saja, sehingga proses pembayaran di sana jauh lebih cepat dan lancar, jika dibandingkan dengan dua meja kasir lainnya.
Namun hal ini justru membuat antrian di sini selalu lebih panjang dari meja kasir lainnya, sebab semua orang selalu ingin dilayani dengan cepat, terutama mereka yang hanya berbelanja beberapa barang saja.
Belum sempat anak berpita merah ini maju ke depan dan mendekati meja kasir, tiba-tiba saja barisan di belakangnya riuh, dan dengan terburu-buru seorang ibu berusia lima puluhan berjalan di sisi antrian yang sempit dan berusaha untuk mendekati meja kasir.
Namun yang lain enggan menepi, atau bahkan memudahkan langkahnya menuju ke depan. Tak sedikit yang mengomel, bahkan mengumpat kelakuan ibu tersebut.
Ibu tersebut tetap maju ke depan, hingga akhirnya berdiri bersisian dengan anak berpita merah.
Wajahnya tampak lelah dan sedikit pucat, mungkin sedikit malu karena menjadi bahan ejekan banyak orang di sana.
Kasir hanya diam, tanpa melakukan apa-apa, sementara orang di depannya berlalu sambil tersenyum kecut, penuh ejekan.
“Maaf semua, saya sangat terburu-buru dan harus segera tiba di rumah kembali. Tolong, saya mau bayar ini, Mbak,” ucap ibu tersebut dengan terbata-bata.
“Yang benar aja, Mbak, masa orang nyerobot begitu diladeni duluan?” protes seorang pembeli yang lagi antri.
“Maaf, Ibu harus antri seperti yang lainnya,” ujar kasir sambil mempersilahkan anak berpita merah maju ke depan.
“Tapi saya hanya membeli sekotak susu formula ini saja, cucu saya yang masih bayi menangis kehausan di rumah, tolonglah,” pintanya pelan.
Namun kasir tetap diam dan tidak menanggapi sama sekali, sementara yang antri di belakang tetap sibuk dengan komentar masing-masing.
“Nenek boleh bayar sekarang, biar cepat pulang. Aku bisa antri lagi dari belakang, cuma sebentar,” ucap anak berpita merah sambil tersenyum dan mempersilahkan ibu tersebut ke meja kasir, seraya berlalu menuju antrian paling terakhir.
Kasir terpaku sesaat, sebelum akhirnya mempersilahkan ibu yang berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada anak tersebut.
Pembeli sepanjang antrian menjadi hening, dan tiba-tiba saja mereka sibuk dengan pikiran dan rasa malu masing-masing.
Kita bisa belajar dari seorang anak kecil yang dengan senang hati menukar antriannya untuk mempersilahkan seorang ibu tua yang sedang terburu ingin membelikan susu untuk cucunya.
Memang sebenarnya apa yang dilakukan ibu tersebut bukanlah sebuah contoh yang baik,
Akan tetapi kita bisa belajar banyak tentang sifat seorang anak kecil yang sangat tulus memberikan waktu dia untuk seorang ibu yang sedang terburu buru ingin membelikan susu untuk cucunya.
Berprasangka Baik
Seorang ibu bertanya kepada anaknya yang berusia 5 tahun, “Kalau mama dan kamu sedang pergi bermain bersama, lalu kita kehausan tapi tidak ada air, dan kebetulan di dalam tas kecil kamu ada 2 buah apel, apa yang kamu akan lakukan?”
Si anak berpikir sejenak, lalu menjawab mantap, “Saya akan menggigit kedua apel tersebut.”
Mendengar jawaban si anak, ibunya pun kecewa.
Awalnya ia berpikir untuk segera mengajarkan anaknya mengenai apa yang seharusnya dilakukan, namun sang ibu terdiam dan mencoba bersabar.
Kemudian sang ibu berkata lembut sambil membelai sayang kepala anaknya, “Bisakah kamu beritahu mama alasan, kenapa kamu melakukan itu?”
Si anak pun menjawab dengan lugu, sambil matanya berbinar cerah. “Karena…. karena saya mau memberikan apel yang lebih manis kepada mama.”
Begitu mendengarnya, hati sang ibu pun tersentuh. Tanpa terasa, air mata haru pun jatuh membasahi pipinya.
Terkadang, dalam keluarga harmonis pun, bisa muncul kesalahpahaman. Untuk itu, yang kita perlukan adalah berbaik sangka, kesabaran dan kemauan untuk mendengar secara tuntas penjelasan dari orang-orang yang kita kasihi.
Saturday, October 29, 2016
Makna Sebuah Pensil
Seorang anak memandangi neneknya yang sedang menulis, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang aku?”
Sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata-kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah-mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”
Si anak merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Pensil itu sama saja dengan pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandangnya. Ada lima hal yang penting, dan kalau kau berhasil memahaminya, kau akan merasa damai dalam menjalani hidupmu.”
Pertama: Kau sanggup melakukan hal-hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendakNya.
Kedua: Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.
Ketiga: Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa-apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat: Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang ada di dalam dirimu.
Dan yang Kelima: Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.
Intinya: Kita melakukan sesuatu dengan kehendakan kita, kadang kita menghadapi masalah agar lebih baik, kesalahan yg kita lakukan bisa diperbaiki, kita lakukan sesuatu dengan niat yg baik dan apa pun yg kita lakukan akan meninggalkan bekas.
Semuanya akan baik kalau kita tahu bahwa semua ada yg mengaturnya.
[Source : Like the Flowing River – Paulo Coelho)
Listrik Tenaga Kedondong
Naufal Rizki, pelajar kelas 2 MTSN Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh mampu menemukan energi.
Uniknya Naufal menemukan energi listrik dari pohon kedongdong.
Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Supriaman dan Deski ini sebelumnya hanya coba-coba.
Berawal dari pelajaran di sekolah, Naufal akhirnya berhasil menciptakan tenaga listrik dari batang pohon.
"Awalnya saat saya mempelajari ilmu pengetahuan alam, saya membaca bahwa buah yang mengandung asam katanya bisa menghantarkan listrik, akhirnya saya lakukan uji coba pada buah kentang. Setelah itu saya berpikir lagi, kalau buahnya mengandung asam berarti pohonnya juga mengandung asam, akhirnya saya mulai melakukan eksperimen," ujarnya di acara Pertamina Science Fun Fair 2016, Jakarta, Sabtu (29/10/2016).
Dia menjelaskan, pertama kali eksperimen itu dilakukan pada pohon mangga dan ternyata tidak layak.
Akhirnya saya menemukan kedondong pagar yang kadar asam atau getahnya mampu menghantarkan listrik.
Meski demikian, Naufal mengaku bahwa bekal yang dimiliki tidak hanya dari sekolah. Namun juga adanya dukungan sang Ayah yang sangat membantu dalam percobaannya tersebut.
"Kebetulan ayah Naufal bekerja di elektronik. Jadi sedikit banyak saya tahu alat-alat elektronik," paparnya.
Hasil temuan energi dari pohon kayu ini memang sederhana, dengan rangkaian yang terdiri dari pipa tembaga, batangan besi, kapasitor dan dioda, arus listrik yang dihasilkan sangat tergantung kepada kadar keasaman pohon.
Sebelumnya, Naufal sudah melakukan lebih dari 60 kali percobaan dan menelan biaya sekitar Rp14 juta.
Dengan temuannya ini, satu rumah dapat dialiri listrik melalui sepuluh pohon kedondong pagar.
Ditanya cita-cita dan keinginannya ke depan.
Dengan sigap Naufal langsung menjawab ingin menjadi ilmuwan. "Saya ingin jadi ilmuwan dan kedepannya ingin mengembangkan eksperimen untuk menghidupkan alat elektronik," tukasnya.
Naufal sendiri diundang dalam acara Pertamina Science Fun Fair 2016 untuk berbagi inspirasi kepada para peserta lomba untuk dapat menghasilkan sebuah karya yang inovatif dan inspiratif.
Melalui ajang ini juga diharapkan, akan lahir Naufal lainnya yang mampu mengharumkan nama bangsa.
Sumber: Sindonews
Keajaiban Dunia Menurut Seorang Anak
Seorang Guru memberikan tugas kepada anak didiknya untuk membuat sebuah daftar tentang tujuh keajaiban duniua murid mula mengerjakan tugas dari Guru tersebut, ada yang berfikir, ada yang berdiskusi dengan teman sebangkunya, dan ada yang garuk-garuk kening sedang berfikir mencari jawaban.
Ketika waktu yang ditentukan telah habis maka murid murid menyerahkan hasil tugasnya kepada sang guru, sang guru pun mulai membaca dan memeriksa tugas dari murid muridnya.
Walaupun terdapat beberapa ketidak samaan, namun rata rata murid menuliskan tujuh keajaiban dalam daftar mereka sebagai berikut:
Taj mahal di India
Tembok besar di China
Piramida di Mesir
Grand canyon
Terusan panama
Empire state building
St. peter’s basilica
Borobudur di Indonesia
Setelah memeriksa tugas dari murid muridnya, Pak Guru memperhatikan salah seorang murid perempuan yang belum menyerahkan tugasnya.
Padahal waktu telah habis dan semua temannya telah mengumpulkan tugas mereka kepada Pak Guru.
Kemudian Pak Guru mendekati murid perempuan tersebut dan bertanya:
"Apakah kamu mengalami kesulitan dalam tugas ini?"
Murid perempuan tersebut menjawab: “Ya, ada sedikit, aku tidak dapat memutuskan keajaiban mana yang harus aku tulis di daftar ini, karena begitu banyak keajaiban."
Kemudian Pak Guru berkata:
Jika demikian, bacakan kepadaku semua yang telah kau catat yang kau anggap sebagai sebuah keajaiban, mungkin dengan demikian dapat membantumu."
Murid perempuan tersebut terdiam sejenak dia ragu untuk membacakannya, namun kemudian ia membacakan daftar yang telah ia pegang, “menurutku tujuh keajaiban di dunia adalah:
1. Melihat
2. Mendengar
3. Merasakan sesuatu
4. Berkata
ia terdiam sejenak, lalu dia menambahkan:
5. Tersenyum
6. Berfikir
7. Berjalan dan berlari
Setelah murid perempuan tersebut membacakan daftarnya, Pak Guru pun terhenyak dan murid-murid yg lain diam.
Walaupun mungkin jawaban Si Anak tadi bisa saja salah, Anak tersebut telah mengajarkan kepada kita tentang suatu keajaiban yg sebenarnya.
UKURAN SUKSES
Ukuran sukses seseorang adalah:
*@ Pada umur 4 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita tdk ngompol di celana;_
*@ Pada umur 7 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita tahu jalan pulang ke rumah;_
*@ Pada umur 12 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita punya banyak teman;_
*@ Pada umur 17 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita bisa mendapatkan KTP dan SIM;_
*@ Pada umur 23 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita lulus Perguruan Tinggi;_
*@ Pada umur 25 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita sudah dapat pekerjaan;_
*@ Pada umur 30 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita berhasil membangun Keluarga;_
*@ Pada umur 35 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita sudah bisa hidup mapan;_
*@ Pada umur 45 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita mampu menjaga kelihatan awet muda;_
*@ Pada umur 50 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau didikan kita thd anak membuahkan hasil;_
*@ Pada umur 60 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita masih mampu mengendarai atau mengemudikan kendaraan;_
*@ Pada umur 65 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita hidup tanpa mengidap penyakit;_
*@ Pada umur 70 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita merasa tidak menjadi beban;_
*@ Pada umur 75 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita masih punya banyak teman;_
*@ Pada umur 80 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita masih tahu jalan pulang ke rumah.;_
*@ Pada umur 85 tahun . . .*
_Sukses adalah kalau kita tidak ngompol di celana._
*LHOO ... KOK BALIK LAGI YAA. . . ???*
_(it's so natural, so..... enjoy our life cycle!!)_
Allah SWT berfirman:
Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?"
(Ya Sin: 68)
**Sekarang: sukses kalau Anda bersedia membagikan tulisan ini ke banyak orang sebagai pengingat akan kehidupan**
Mencari Pasangan Yang Sempurna
Ada seorang pemuda yang telah sampai usia saat ia merasa harus mencari pasangan hidup.
Jadi ia mencari-cari gadis sempurna di seluruh negeri untuk dinikahi.
Setelah berhari-hari, berminggu-minggu mencari, ia bertemu dengan gadis yang sangat cantik-jenis gadis yang bisa menghiasi sampul majalah perempuan bahkan tanpa make-up atau kosmetik!
Namun, meski dia kelihatan sempurna, pemuda itu tak bisa menikahinya. Sebab gadis itu tidak bisa masak!
Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.
Lalu ia mencari lagi, selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan akhirnya ia menemukan gadis yang bahkan lebih cantik lagi, dan kali ini masakan gadis itu luar biasa lezat-lebih baik dari yang bisa Anda dapatkah di restoran terbaik di negeri ini, bahkan lebih baik dari yang bisa Anda dapatkan dari restoran keluarga.
Gadis ini bahkan menjalankan usaha restorannya sendiri!
Wow hebat sekali bukan!
Namun pemuda ini tak bisa menikahinya pula.
Sebab kekurangan gadis itu adalah dia bodoh.
Dia tak bisa menjalin percakapan sama sekali, sama sekali tidak cerdas.
Dia belum menamatkan pendidikan, segala yang ia tahu cuma memasak!
Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.
Maka ia mencari selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga ia akhirnya menemukan gadis yang satu ini!
Ia begitu cantik, masakannya melebihi restoran bintang lima, bahkan ia punya tiga restoran sendiri: ala Korea, ala Jepang dan ala Italia. Dan ia begitu cerdas, ia punya dua gelar doktor, pengetahuannya begitu luas, bisa menjalin percakapan begitu hebat, begitu baik, begitu perhatian.
Dia sempurna!
Tapi, pemuda ini tak bisa menikahinya.
Sebab gadis ini mencari pria yang sempurna!
Berhentilah mencari dia yang sempurna, tapi terimalah dia yang menerima ketidak-sempurnaanmu.
Belajarlah dari sepasang bakiak, sendal atau sepatu walaupun tampak serupa mereka tetap memiliki kekurangan masing-masing, namun ketika satu hilang yg lain tak ada gunanya.
Carilah pasangan yg saling melengkapi.
Bila Aku Tahu Tidak Ada Hari Esok
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.
Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.
Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.
Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda.
Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.
Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?
Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari.
Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman. Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.
Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.
Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”
Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.
[Norma Cornett Marek ~ 1989]
Setiap Langkah Adalah Anugrah
Seorang profesor di undang untuk bericara di sebuah basis militer. Dia bertemu seorang prajurit yang tak akan pernah dilupakannya, Harry yang di kirim untuk menjemput professor di bandara.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor. Ketika berjalan keluar, Harry sering menghilang.
Banyak hal yang di lakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh. Kemudian mengangkut anak kecil agar dapet melihat pemandangan. Ia juga menolong orang yang tersesat dna menunjukan arah jalan yang benar.
Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor dengan senyumnya menghiasi wajahnya.
“Darimana anda belajar hal-hal seperti itu?” tanya sang profeor.
“Oh,” kata Harry. “Selama perang, saya kira.”
Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam.
Juga saat tugasnya membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana dia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.
“Saya belajar untuk hidup diantara pijakan setiap langkah,” katanya.
“Saya tak pernah tahu apakah langkah selanjutnya merupakan pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.”
Kelimpaahan hidup tidak dapat ditentukan dengan berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas.
Setiap nafas yg kita hembuskan adalah anugrah demikian pula setiap detak jantung kita.
Kita betul-betul tidak akan tahu kapan mata akan berhenti berkedip dan kapan pula kaki akan berhenti melangkah.
So jangan pernah berhenti bersyukur.
Tumbuhlah Seperti Pohon Bambu
Pohon bambu tidak akan menunjukkan pertumbuhan berarti selama 5 tahun pertama.
Walaupun setiap hari disiram & dipupuk, tumbuhnya hanya beberapa puluh centimeter saja.
Setelah 5 tahun kemudian, pertumbuhan pohon bambu sangat dahsyat & ukuran nya tidak lagi dalam hitungan centimeter melainkan meter.
Lantas sebetulnya apa yang terjadi pada sebuah pohon bambu?
Selama 5 tahun pertama, ia mengalami pertumbuhan dahsyat pada akar dan BUKAN pada batang, selama waktu itu pohon bambu sedang mempersiapkan pondasi yang sangat kuat, agar ia bisa menopang ketinggian nya yang berpuluh puluh meter kelak dikemudian hari.
MORAL OF THE STORY
Jika kita mengalami suatu hambatan & kegagalan, bukan berarti kita tidak mengalami perkembangan, melainkan justru kita sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa didalam diri kita.
Ketika kita lelah & hampir menyerah dalam menghadapi kerasnya kehidupan, jangan pernah terbersit pupus harapan.
Ada ungkapan yang mengatakan “the hardest part of a rocket to reach orbit is to get through the earth’s gravity”
(“bagian terberat agar sebuah roket mencapai orbit adalah saat melalui gravitasi bumi”).
Jika kita perhatikan, bagian peralatan pendukung terbesar yang dibawa oleh sebuah roket adalah jet pendorong untuk melewati atmosphere & gravitasi bumi.
Setelah roket melewati atmosphere, jet pendorong akan dilepas & roket akan terbang dengan bahan bakar minimum pada ruang angkasa tanpa bobot, melayang ringan, & tanpa usaha keras.
Demikian pula dengan manusia, bagian TERBERAT dari sebuah KESUKSESAN adalah disaat awal seseorang MEMULAI USAHA dari sebuah perjuangan, karena segala sesuatu terasa begitu BERAT & PENUH TEKANAN.
Namun bila ia dapat melewati batas tertentu, sesungguhnya seseorang dapat merasakan segala kemudahan & kebebasan dari tekanan & beban.
Namun sayangnya, banyak orang yang MENYERAH disaat tekanan & beban dirasakan terlalu berat, bagai sebuah roket yang gagal menembus atmosphere.
Buya Hamka berkata “kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup & kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja.”
Ketika pohon bambu ditiup angin kencang, ia akan merunduk, tetapi setelah angin berlalu, dia akan tegak kembali, laksana perjalanan hidup seorang manusia yang tak pernah lepas dari cobaan & rintangan.
Maka jadilah seperti pohon bambu.
Fleksibilitas pohon bambu mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup, walaupun badai & topan menerpa.
Tidak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tidak ada alasan untuk terpendam dalam keterbatasan, karena bagaimanapun pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.
Pastikan dalam hari hari kedepan, hidup kita akan *MENJULANG TINGGI & menjadi PEMBAWA BERKAT* bagi sesama, seperti halnya pohon bambu.
Soto Gratis Setiap Jumat Di Bantul, Yogyakarta
Bagi sebagian besar orang, berdagang selalu memiliki niat utama untuk mengeruk laba sebanyak-banyaknya. Namun tidak bagi Elok Budi Lestari (37), baginya berdagang selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga untuk bersedekah.
Niat untuk tidak hanya berdagang sebatas mencari nafkah, sudah Elok tanamkan sejak ia membuka pertama kali warung sotonya yang berlokasi di Jalan Wonosari KM 13, Piyungam, Bantul, Yogyakarta.
Bahkan selama satu minggu pertama sejak hari perta warungnya dibuka sudah menggratiskan para pembelinya.
“Sejak hari pertama buka sudah saya gratiskan selama satu Minggu penuh. Ya niatnya buat sekalian sedekah,” terang Elok.
Kini kebiasaan memberikan soto selama satu minggu penuh tersebut masih ia pertahankan. Setiap hari jum’at pukul 13.00-14.00, Elok menggratiskan pembelinya.
Para pengunjung pun merasa senang. Otomatis pembeli pun kaget begitu mau membayar karena tidak mengetahui adanya program soto gratis tersebut.
Mereka biasa berfoto ketika makan soto dan mengabarkan ke teman-teman lainnya.
Hal ini tentu menjadi media promosi tersendiri sehingga pengunjung warungnya pun semakin banyak.
Selain bersedekah, Elok mendapatkan keuntungan ganda yaitu meningkatnya omzet karena sotonya semakin banyak dikenal lewat publikasi yang dilakukan oleh pelanggannya sendiri.
Tri Budi Wicaksono, salah satu karyawan warung Soto Bu Elok, mengungkapkan bahwa setiap Jum’at minimal 50 mangkuk dibagikan gratis kepada para pengunjung.
“Kebanyakan pengunjung dari orang sekitar, terutama karyawan. Selebihnya ada beberapa dari luar daerah sini,” ungkap Tri Budi Wicaksono seperti dikutip jogja.tribunnews.com
Warung Soto Bu Elok yang biasa menyajikan menu soto kudus ini sudah mulai melayani pembeli sejak 19 November 2014.
Di saat himpitan ekonomi makin mencekam bangsa ini, Elok memberikan pelajaran akan pentingnya berbagi kepada sesama.
Bahwa berdagang tidak hanya sebatas mengumpulkan pundit-pundi rupiah, namun ada semangat bersedekah disana, berbagi bagi sesama.
Jika semangat kepedulian ini ditiru oleh banyak pengusaha lain dan masyarakat pada umumnya tentu tak kita temukan lagi warga miskin dengan perut lapar karena tak ada uang untuk makan.
Kisah Uang Seribu dan Seratus Ribu
Uang kertas Rp1,000 dan Rp 100,000 dibuat dari kertas yg sama dan diedarkan oleh Bank Indonesia (BI).
Ketika dicetak, mereka bersama, tetapi berpisah di bank dan beredar di masyarakat.
4 bulan kemudian mereka bertemu secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda.
Maka mereka pun ngobrol:
Uang Rp 100,000 bertanya kepada Rp 1,000: "Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor dan berbau amis?"
Rp 1,000 menjawab: "Karena begitu aku keluar dari bank, terus ke tangan orang bawah dari kalangan buruh, penjaja, penjual ikan dan di tangan pengemis."
Lalu Rp 1,000 bertanya balik kepada Rp 100,000: "Kenapa kau begitu baru, rapi dan masih bersih?"
Rp 100,000 menjawab: "Karena begitu aku keluar dari bank, terus disambut perempuan cantik, dan beredarnya pun di restoran mahal, di kompleks pasar raya mall bergengsi dan juga hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet."
Lalu Rp 1,000 bertanya lagi:
"Pernahkah engkau berada di tempat ibadah?"
Rp 100,000 menjawab:
"Belum pernah"
Rp 1,000 pun berkata lagi: "Ketahuilah walaupun aku hanya Rp 1,000 tetapi aku selalu berada di seluruh tempat ibadah, dan di tangan anak-anak yatim piatu dan fakir miskin bahkan aku bersyukur kepada Tuhan semesta alam. Aku tidak dipandang sebagai sebuah nilai, tetapi adalah sebuah manfaat.
Lantas menangislah Rp 100,000 karena merasa besar, hebat, tinggi tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini.
Semoga cerita ini memberi pengajaran kepada kita semua bahwasanya sebuah nilai tak akan berarti jika tak memberi manfaat untuk banyak orang.
Ini artinya, kekayaan, kedudukan, dan pangkat yang tinggi yang tak memiliki manfaat juga tak lebih baik daripada orang miskin dan berprofesi rendah tapi memberi banyak manfaat untuk orang lain.
Jangan pernah menyombongkan diri kita untuk apa yang kita miliki sekarang sebelum semua itu benar-benar berguna dan bermanfaat bagi banyak orang.
Setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dihadapan Allah yg membedakan antara satu orang dan yang lainnya adalah ketakwaannya.
Setiap Anak Mempunyai Peluang Untuk Berhasil
Kisah Dari Satu Sekolah
Di sebuah madrasah, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.
Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan.
Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas.
Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.
Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini.
Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini.
Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.
Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis: “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,”
“Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.
Di catatan raport kelas 2 tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan.”
Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas.”
Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan.”
Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini.”
Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada.
Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam…
Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak:
“Bu guru kerja sampai sore di sekolah, bagaimana kalau kamu juga belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin.”
Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.
Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh, prepare dan review dia lakukan di bangkunya di kelasnya.
Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.
Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.
Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis.
“Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”
Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 MI. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”
Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”
Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 MI.”
Setahun kemudian, yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris,
“Mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,”
Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia.